Tanggapan Ulama besar tentang shalat

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Surat al-Ankabut ayat 45

Saya mengambil potongan dari ayat ini yaitu makna“sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” yang jadi pertanyaan saya, makna shalat yang Allah katakan di dalam ayat ini, shalat yang seperti apa? Pada kenyataannya semua orang khususnya umat muslim, menjalankan amalan ibadah ini, karena shalat itu merupakan ibadah rutin kita, yang kita kerjakan sehari-hari. Bahkan tidak hanya yang wajib sampai pada amalan sunnah pun banyak yang mengerjakannya, meskipun hanya sebagian orang. Tentunya Allah pasti menjanjikan kepada hamba-hambanya yang bertaqwa khususnya, dan Allah juga akan memberikan tempat yang sangat istimewa baginya. Begitu luar biasanya amalan shalat ini. Maka dalam pembahasan ini saya membuat proposisi, Shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, ulama itu shalat, maka ulama itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar

Akan tetapi pada kenyataannya, justru orang-orang yang sehari-harinya beribadah atau bisa kita katakan ulama,ustadz ataupun kyai, sangat disayangkan, ada yang sampai berbuat kekejian bahkan sampai kepada kemunkaran. Nah disini terjadi kontradiksi, seolah-olah apa yang Allah katakan dalam ayat ini, hanya kebohongan semata. Jadi kembali ke awal, shalat yang seperti apa, yang Allah maksudkan dalam ayat ini? kalau memang shalat itu mencegah dari segala perbuatan yang buruk, lalu bagaimana dengan kasus yang tadi saya kemukakan? manusia itu shalat akan tetapi berpotensi melakukan kekejian dan kemunkaran, ulama itu manusia, maka ulama walaupun shalat berpotensi melakukan kekejian dan kemunkaran. Jadi dengan kata lain bahwa tidak akan menjamin seseorang yang mengerjakan shalat sampai kepada alim/ulama sekalipun, akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Maka dari itu saya tidak setuju dengan ayat ini, karena bertentangan dengan realitas yang sebenarnya. Dan mengapa hanya kata ”shalat” yang Allah cantumkan, tidakah ada amalan yang lain seperti berdzikir, puasa atau apalah itu yang dijadikan dasar agar manusia terjauh dari perbuatan keji dan munkar.

 

Tanggapan untuk pernyataan di atas

Saya sebetulnya setuju dengan pernyataan ini, akan tetapi saya harus membuat sebuah garis lurus akan permasalahan ini. Permasalahan seperti ini memang terjadi pada realitas kehidupan. Kita melihat seorang yang alim atau kita sebut saja ulama, yang pintar dalam ilmu agama dan mereka mengerjakan sholat, malah mereka berbuat keji dan kemungkaran. Akan tetapi sebaliknya, orang yang bukan ahli dalam urusan agama malah lebih sering berbuat baik dan tidak berbuat keji dan mungkar.

Yang patut kita perhatikan adalah makna dari kata sholat ini. Untuk mengkaji persoalan ini saya mendefiniskan sholat dengan mengingat Allah, dan bukan perbuatan mneurut syar’i yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam . Dengan ini saya meyakini bahwa seharusnya kesimpulan hasil dari term diatas menjadi sebuah premis mayor, ialahbahwa sholat itu bisa mencegah berbuat keji dan kemungkaran.

Maka dari itu saya akan membahas bahwa sholat yang bermakna bisa mencegah kemungkaran ini adalah dengan melihat substansi sholat yaitu mengingat Allah. Ketika kita senantiasa mengingat Allah maka sholat kita dapat mencegah kita dari berbuat keji dan kemungkaran. Siapa yang mengingat Allah dia terpelihara dari kedurhakaan, dosa dan ketidakwajaran dan sesesungguhnya mengingat Allah, yakni sholat adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain dan Allah mengetahui apa yang kamu sekalian senantiasa kerjakan baik maupun buruk.    

Proposisi pertama; Sholat itu mengingat Allah, Mengingat Allah itu mencegah perbuatan keji dan munkar, Sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar

Proposisi kedua; Ulama itu sholat, Sholat itu bisa mencegah berbuat keji dan munkar, Ulama itu bisa tercegah (tidak berbuat) dari perbuatan keji dan munkar.

Natijah pertama saya gabungkan dengan term yang kedua, sholat ini saya maknakan dengan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah makna sholat akan lebih luas tidak hanya sebagai ritual yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Ketika orang itu mengingat Allah kapanpun dan dimanapun ia berada maka ia akan selalu terjaga dari perbuatan dosa. Begitu pun dengan ulama yang sholat dan sholatnya itu dimaknakaan dengan mengingat Allah. Di sini saya mau menghususkan bukan hanya ulama saja, akan tetapi pada setiap orang yang sholat seperti ini maka akan terjaga dari perbuatan keji dan munkar. Karena kita senantiasa menghadirkan Tuhan dalam diri kita. Wassalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s